Menulis di Masa Literasi Digital

WHAT`S UP
#TrendingNow
Photo: agencelisonlescarbeau.com

LAKEYBANGET - Menulis itu mengabadikan gagasan. Bahkan ada yang bilang menulis itu jembatan keabadian. Mengapa? Karena saat sang penulis sudah tiada, tulisannya masih bisa dibaca orang. Gagasannya tak ikut mati. Masih bisa mempengaruhi dan menggerakkan orang lain.  

Tentu bukan hanya penulis dalam arti khusus yang menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Peneliti, pengajar, pakar hukum, ekonom, dan hampir semua profesi di dunia modern menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Mungkin istilah literasi bisa menggambarkan luasnya samudera pengetahuan yang terhampar dalam lembaran-lembaran buku. Dari zaman ketika aksara dipahat di atas batu, digoreskan di daun lontar, dicetak di atas kertas hingga berformat buku elektronik.  

Menurut Phillip Ventimiglia dan George Pullman dalam artikelnya yang berjudul  From Written to Digital: The New Literacy menyebutkan bahwa belajar menulis, belajar berfikir, dan kini juga mempelajari untuk membentuk struktur komputasional dan untuk berfikir secara digital dibutuhkan tidak hanya dalam urusan penyerapan kerja namun juga soal kemerdekaan intelektual.

Saat ini hampir pasti kamu yang ingin menjadi penulis akan sangat terbantu dengan teknologi. Bisa menulis di desktop, bisa menulis di laptop, bahkan menulis di tablet dan smartfone. Kamu bisa menyimpannya di cloud, membuat back upnya di flashdisk atau media yang lain.

Dalam sekejap kamu bisa berbagi gagasan yang tertuang dalam tulisanmu dengan banyak orang. Lewat medsos, blog, web, atau media online yang tersedia di dunia maya. Zaman digital ini memberi peluang bagi siapapun untuk menjadi penulis. Termasuk penulis konten, istilah yang baru marak satu dasawarsa terakhir.

Apa yang ditulis? Bisa fiksi bisa juga non-fiksi. Kita fokus dulu pada penulis cerita, travel blogger, citizen journalist, dan penulis buku. Seperti yang sudah disinggung di atas semua profesi juga terlibat dan berkait dengan dunia tulis menulis.   

Siapa yang mempekerjakan? Kamu bisa memilih untuk menulis lepas atau mandiri. Bisa juga bekerja pada orang lain atau perusahaan yang memang membutuhkan jasa penulis. Originalitas dan kepiawaian menulismu akan menentukan langkahmu menjadi penulis yang handal. Kamu bisa mempelajari bagaimana kamu bisa memonetize tulisan-tulisanmu.

Bagaimana prospeknya? Banyak penulis yang sukses. Namun yang lebih penting, hidupnya punya makna. Berkontribusi mencerahkan khalayak pembaca dengan tulisan-tulisanmu. Semakin bayak membaca, semakin banyak pula kamu bisa menulis. Tidak saja membaca buku, namun juga membaca realita, membaca dan mempelajari kehidupan yang berlangsung dalam jarak jangkauan inderamu atau melalui media massa.  

Menulis status atau cuitan di medsos juga bagian dari bentuk literasi media digital. Banyak ulasan di status orang yang di komentari oleh ratusan orang, dibaca ribuan orang, dan menjadi pemantik diskusi yang konstruktif. Yang paling penting adalah pertanggungjawaban kita atas apa yang kita tulis. Sah-sah saja kita mempertahankan tesa dalam argumen yang kita tulis, membuktikan validitas data yang kita paparkan. Namun, secara jernih kita harus terbuka terhadap kritik. Itulah nilai atau makna yang dibawa budaya literasi yang positip.

Jadi apapun profesi yang ingin kamu tekuni, belajarlah menulis. Khusus yang ingin menjadi penulis novel, penulis skenario, atau jurnalis tentu ada jalur pendidikan atau pelatihannya sendiri. Saat ini banyak kursus online yang tersedia di dunia maya. Salah satunya dalam platform MOOC (massive online open course). Itu bila kamu tidak bisa mengakses kursus menulis reguler.  

Jadi tunggu apa lagi Guys? Jangan sampai terlewat kesempatan untuk belajar dan menuangkan gagasan-gagasanmu untuk dunia. Daripada tenggelam konsumtif tanpa arah di era digital. Lebih baik kamu konsen menuliskan gagasanmu secara serius. Kamu bisa makin eksis lho. Apalagi bila tulisanmu sudah terbit dalam bentuk buku misalnya.