Foto yang Menarik dan Komunikatif

Jepret
Edu-Jepret
Photo: rule of thirds/ petapixel

HOAX ah kalo gak ada fotonya! Itu komen temanmu saat kau posting status tentang suatu peristiwa. Foto sering dipandang lebih jujur daripada status atawa postingan. Hampir tak mungkin kamu gak menggunakan foto dalam menjalani hari-harimu. Setiap ponsel atau tab sudah menyematkan kamera di dalamnya.

Medsos-medsos populer pun memungkinkan kamu berbagi foto dan video. Bahkan medsos semacam instagram lebih mengandalkan fitur layanan berbagi foto dan video dalam tampilannya. Banyak situs juga mengandalkan foto, misalnya situs travelling. Mana enak baca cerita travelling atau destinasi wisata tapi gak ada gambar atau gambarnya jelek.  

Foto dapat menyampaikan pesan melalui ekspresi wajah, emosi, gerakan dan postur tubuh serta komposisi, cahaya dan bayangan. Sebuah foto bisa menjelaskan suatu peristiwa seperti juga tulisan atau ucapan. Bisa juga saling melengkapi.

Saat ini siapa saja bisa menjadi jurnalis, termasuk kamu. Dan fotomu bisa menjadi viral. Karena obyek yang kamu ambil memang tepat. Foto Jurnalistik menceritakan kisah dengan foto. Tetapi di atas semua itu, cerita yang dibuat harus mengikuti aturan jurnalisme. Fotomu akan berkisah, memaparkan fakta, menunjukkan sudut pandang yang obyektif, dan pesannya sampai ke viewer mediamu.

Kamu bisa punya peluang bekerja sebagai pewarta foto. Yang memang mengharuskan kemampuan untuk menjadi seorang jurnalis foto. Namun, ada kalanya kamu harus menjalani dua sub-profesi sekaligus mengambil foto suatu peristiwa sekaligus menulis beritanya.

Penugasan untuk mengambil gambar atau berita akan sangat mengasyikkan lho. Terbuka kemungkinan kamu bisa keliling negeri bahkan ke manca negara. Apalagi buat kamu yang memang hobi jeprat-jepret. Bertemu dengan orang-orang dari berbagai kalangan, pemandangan dan suasana yang unik, dan banyak obyek yang mungkin jarang kamu temui.

Ada beberapa tips dari Steve McCurry yang bisa membantumu menghasilkan foto yang menarik. Ini dia!

Aturan Sepertiga/ Rule of Thirds: Bagi frame dalam 9 bagian imajiner. Bagi menjadi tiga bagian horizontal dan tiga bagian vertikal. Tempatkan poin yang manjadi perhatian pada interseksi dan unsur-unsur penting sepanjang garis.

Leading Lines: Gunakan garis alamiah seperti garis pantai, garis tepi jalan, rel kereta api, garis cakrawala atau garis alami lainnya untuk memandu ke titik pusat perhatian kita.

Diagonal: Garis diagonal bisa menjadi alternatif untuk menghasilkan gambar yang menarik. Tercipta perspektif yang menarik untuk menyampaikan pesan tentang ruang dan dinamika yang terjadi dalam ruang tersebut.   

Framing atau pembingkaian : Gunakan bingkai alamiah seperti pintu dan jendela. Bingkai alamiah ini bisa menyampaikan kesan yang menarik.

Kontras/ Figure to Ground: Kontraskan subyek dan latar belakang/ background. Dengan cara ini tujuan komunikasi dan estetika sebuah foto jurnalistik bisa dicapai.

Penuhi Frame: Dekati subyek untuk mengisi frame. Medium Close Up bahkan Close Up. Untuk tujuan tertentu dalam fotografi jurnalistik kamu bisa memenuhi frame dengan subyek.

Letakkan mata subyek yang dominan di tengah/ Center Dominant Eye: Tempatkan mata yang dominan di garis tengah. Dengan tips ini kamu bisa menampilkan gambar yang agak berbeda. Walau sepintas seperti simetris namun sebanarnya kamu ingin menonjolkan salah satu sisi dari wajah seseorang

Pola dan Pengulangan/ Patterns and Repetition: Pola-pola yang seragam selalu menarik. Tapi yang paling menarik kala ada sesuatu yang nyeleneh, yang keluar dari pakem, yang patah atau tiba-tiba berbeda di anatara pola yang seragam.

Simetris: Mata kita memiliki kecenderungan untuk merasa nyaman pada segala yang simetris. Mungkin demikian juga dengan otak kita.

Yang penting kamu enjoy dan jangan bikin tips di atas jadi pembatas kreatifitasmu.