Menjadi Petani Modern dengan Bekal Pendidikan SMK

WHAT`S UP
mading
Photo: modern farmer (c) 123RF.com

DULU, petani mungkin belum dianggap sebagai profesi. Setidaknya istilah petani dan profesi belum melekat, masih berjarak dan terasa asing satu sama lain. Padahal petani adalah sebuah profesi yang sangat penting. Semua manusia membutuhkan pangan dan para petanilah yang menjadi elemen penting untuk mewujudkannya.

Menjadi petani belum terasa keren. Tetapi sekali lagi, itu dulu. Petani modern tentu lain penampilan dan kinerjanya. Penguasaan pengetahuan dan teknologi pertanian mendorong petani modern tampil profesional dan bisa membanggakan dirinya. Perubahan mindset dan mentalitas memang seiring sejalan. Mentalitas manusia modern yang efisien seringkali masih belum melebur dalam mentalitas penduduk negeri agraris.    

Dalam membangun industri pertanian juga dibutuhkan para profesional yang ‘menemani’ para petani. Dari peneliti, pengembang teknologi, tenaga pemasaran, hingga mereka yang mengurus distribusinya. Di tengah isu ketahanan pangan dunia.

Cara pandang yang keliru dan meminggirkan profesi petani di Indonesia harus dihilangkan. Tanpa upaya yang serius secara struktural dan kultural, kita akan tenggelam dalam problem pemenuhan kebutuhan pangan. Industri pertanian akan terbengkalai, tak ada anak muda dan generasi baru yang mau jadi petani, dan ketergantungan kita pada bangsa lain dalam hal pangan akan semakin tinggi.

Kultur di Jepang, misalnya, sangat menghargai pilihan profesi apapun termasuk petani. Sejak dini, anak-anak di Jepang sudah memiliki cita-cita dan minat yang beragam. Mereka ingin menjadi tukang bunga, penangkap ikan, peternak, dan tentu saja petani. Ketika menjadi petani, tentu saja petani yang profesional, mampu menerapkan teknologi pertanian modern bahkan melakukan riset dalam kapasitasnya sebagai petani.

Petani modern di Jepang sudah mampu melakukan pengembangan teknologi pertanian yang mencengangkan. Dari pembenihan hingga teknologi pasca panen. Petani Jepang mampu menerapkan pertanian vertikal untuk menyiasati keterbatasan lahan. Petani Jepang bisa menanam di ruang bawah tanah, di lahan kosong pinggiran rel kereta api atau lahan tidur lainnya. Mereka juga mampu mengusir hama dngan teknologi LED dan teknologi lain yang lebih ramah lingkungan.



Para petani di Belanda juga menyiasati iklimnya yang buruk atau kurang mendukung dengan mengembangkan usaha pembenihan.  Produksi bunga dari Belanda sudah berabad lamanya eksis menyuplai kebutuhan Eropa. Di film ‘Tulip Fever’ digambarkan betapa di negeri Belanda, perdagangan dan industri pembenihan bunga bisa mendorong orang berinvestasi dalam jumlah yang cukup besar. Hingga kini pertanian Belanda masih terus berkembang.

Kamu yang berminat di bidang pertanian dapat mengembangkan diri dengan pendidikan yang terkait dengan usaha tani. Sebagai contoh, di tingkat SMK. Ada jurusan pertanian yang memiliki prospek sangat menjanjikan. Kamu bisa mengambil jurusan agroteknologi, agrobisnis, atau pengolahan hasil pertanian.

Kamu bisa bekerja di industri pengolahan pangan, industri pembibitan, industri pupuk, dan sebagainya. Tak kalah kerennya bila kamu punya keinginan kuat menjadi petani modern. Hal yang dibutuhkan untuk menjadi petani profesional adalah kemampuan untuk memenuhi tuntutan standard proses dan produk, tuntutan kandungan pangan yang tidak berbahaya, tuntutan integrasi pengelolaan rantasi pasokan, dan peningkatan kualitas dan keamanan pangan.