Hati-hati dengan Jejak Digitalmu

WHAT`S UP
mading
Photo: digital footprint (c) pcworld

HAMPIR setiap hari kita berhubungan dengan dunia maya. Tanpa kita sadari kita memiliki rekam jejak. Seperti dalam kehidupan nyata. Hanya saja, di dunia digital jejak kita relatif bisa ditelusuri oleh semua orang, baik yang berniat baik maupun buruk. HIngga kita harus mampu memahami bagaimana seharusnya kita sebagai netizen atau digital citizen.

Karena kita tidak kontak langsung di dunia nyata, terkadang kita justru menjadi ceroboh dalam mengakses, mengunggah, mengunduh, atau merespon pihak lain di dunia maya. Kecerobohan ini sangat mungkin harus dibayar mahal. Karena kita mungkin akan kena klaim, atau setidaknya reputasi digital kita buruk hingga orang tidak mau mempekerjakan kita atau tidak mau bekerjasama dengan kita. Rugi banget kan?

Di antara kita ada yang pasif dalam menggunakan media digital. Lebih banyak mengakses, membaca, atau menonton postingan orang lain. Netizen jenis ini mungkin juga tidak terlalu banyak memiliki akun. Hanya punya akun di beberapa media sosial pertemanan  yang populer saja. Itu pun jarang menulis status dan merespon status atau postingan orang lain.

Bagi netizen yang pasif, bukan berarti tanpa resiko. Kamu tetap harus berusaha untuk menjaga privasimu. Kamu harus faham bahwa keamanan data, salah satunya, tergantung dari kamu sendiri. Kamu harus menjaga agar data pribadimu muncul namun tak terlalu banyak mengumbar data-data penting yang bisa disalahgunakan orang lain.

Mengelola akun, terutama username dan password-nya bukanlah hal yang mudah. Kita sendiri sering lupa dengan beberapa akun dan password kita. Namun kita juga tidak boleh menggunakan password yang sama untuk semua akun yang kita miliki. Hal tersebut akan membuatmu akunmu mudah dibajak. Kamu juga harus rajin lho untuk log out setelah selesai menggunakan medsos.

Buat kamu yang rajin nulis status dan posting, ada beberapa hal yang kamu harus fahami. Status dan postingan kita mestilah mencitrakan sikap positip. Status, postingan, atau cuitan kita adalah cerminan dari pikiran dan kepribadian kita. Banyak perusahaan yang tidak mau merekrutmu karena jejak digitalmu yang buruk.

Status caci-maki dan ujaran kebencian harus kamu hindari. Ungkapkan data dan fakta. Buatlah ulasan atau analisis yang faktual. Hindari hoax dan baca dulu, renungkan dulu bila mendapat informasi dari orang lain. Jangan asal share aja, guys. Apalagi dibumbui dengan komen yang lemah dari sisi logika. Alih-alih mendapat apresiasi, kamu bisa terperosok dalam persoalan hukum. Kamu tahu kan ada UU yang mengatur Informasi dan Transaksi Elektronik?



Buat kamu yang rajin komen juga demikian. Komentarmu mestilah difikirkan ulang matang-matang sebelum diposting atau diunggah. Disamping masalah hukum, kamu juga harus mempertimbangkan soal etika. Ada banyak hal yang tidak sesuai dengan pendapatmu di dunia maya. Ada banyak ungkapan yang kasar dan jauh dari kepatutan yang setiuap hari berseliweran. Resiko dari interaksi jarak jauh, apalagi kalau yang melakukannya memang menggunakan akun abal-abal yang tak bisa dilacak otentisitas sumbernya.

Dari komentar yang miring dan tidak bertanggungjawab, kita semua bisa masuk dalam polemik berkepanjangan. Adu argumen bisa meruncing, bisa juga melebar keluar dari topik semula. Menyerang pribadi dan membunuh karakter orang lain dilakukan seakan tanpa dosa di dunia maya.  

 Ada yang suka curhat? Ini juga harus dibatasi. Curhatanmu bisa dimanfaatkan orang lain yang tidak bertanggungjawab bahkan ingin mengambil keuntungan secara ilegal darimu. Jujur bukan berarti mengumbar privasi dan rahasia yang memang seharusnya kamu jaga. Termasuk dalam hal ini adalah menjaga agar berbagi foto, video, lokasi dimana kamu mengakses internet, dan berbagai detail lainnya kamu batasi atau kendalikan.

Sebaiknya kamu bisa meninggalkan jejak digital yang positip. Itu penting untuk karirmu, juga kehidupan sosialmu. Oke Guys, jadilah digital citizen yang baik dan bertanggungjawab ya?