Lagi-lagi Soal Keamanan Data

WHAT`S UP
#TrendingNow
Photo: ilustrasi keamanan data (c) slideshare.net

TWITTER pagi ini (4/5/2018) tiba-tiba meminta penggunanya untuk mengubah kata sandi. Ada apa? Ternyata sistem yang menyamarkan atau menyembunyikan kata sandi pengguna memiliki bug (celah keamanan). Pihak yang tak memiliki hak bisa mengintip sandi yang anda miliki. Kejadian ini belum lama berselang dari kejadian yang menimpa Facebook.

Kenyamanan yang dihadirkan dunia maya memang luar biasa, kebutuhan komunikasi dan informasi bisa dipenuhi. Bahkan hari ini kita sulit membayangkan hidup tanpa internet. Penggunaan internet, terutama media sosial memang sudah menjadi nafas sehari-hari masyarakat milenial. Kalau dulu kita mengeluh kehabisan pulsa untuk menelpon dan mengirim pesan pendek, maka hari ini kita lebih khawatir saat kuota penggunaan data kita habis.

Kehabisan paket data membuat banyak dari netizen yang sudah ‘hidup bersama’ dengan internet menjadi linglung. Seperti terlempar ke hutan belantara sendirian. Nggak bisa googling, nggak bisa chatting, nggak bisa membuka beragam aplikasi yang sudah menjadi asistennya di dunia kerja dan pergaulan sosial.

Di balik kesulitan ada kemudahan. Orang-orang yang awalnya gagap teknologi mulai belajar dan segera menjadi ‘quick-learner’ dalam urusan berinternet-ria. Mau tidak mau dan suka tidak suka segala lapisan mulai menggunakan teknologi digital yang melekat di gadget-nya. Bagaimana tidak? Untuk menjadi driver ojek online saja harus faham beragam aplikasi untuk menjemput rizki.

Gegar budaya melanda. Segala hal yang menarik menjadi viral, termasuk yang belakangan diketahui isinya bohong alias hoax. Eksistensi sementara orang ditopang oleh intensitas menulis postingan dan mengunggah atau berbagi tautan di dunia maya khususnya media sosial. Medsos menjadi semacam tungku yang setiap hari bisa disalahgunakan secara sengaja maupun tidak untuk memprovokasi situasi.

Dan hal lain yang sering luput dari perhatian netizen adalah soal keamanan data. Setelah Facebook mengakui kebobolan data penggunanya, giliran twitter yang membunyikan alarmnya. Ini tantangan bagi semua pemangku kepentingan untuk hadir mengatasi persoalan.

Banyak pengguna internet khususnya media sosial dan beragam aplikasi yang tidak peduli dan kurang hati-hati. Syarat dan ketentuan ketika membuat akun tidak sempat ditelaah. Semua disetujui begitu saja. Padahal konsekuensinya begitu mahal. Keluhan di masa depan bukan hanya soal kemanan data, juga soal kenyamanan pengguna yang datanya sudah tergadai.

Yang harus bertanggung jawab perusahaan kah? Boleh dikata tanggungjawab terbesar memang terletak di pundak perusahaan pemilik atau perilis platform media sosial dan beragam aplikasi tersebut. Merekalah yang mengelola data, memiliki akses ke server, memiliki resources untuk membangun sistem keamanan dan tentu saja mereka pula yang diuntungkan dengan jumlah pengguna berikut data yang mereka himpun dari semua pemilik akun.

Perusahaan memiliki kepentingan dan wataknya sendiri sebagai organisasi profit. Maka kehadiran negara juga diperlukan untuk membela kepentingan publik dengan membuat regulasi yang mengatur para pelaku di dunia maya khususnya penyelenggara atau penyedia beragam jasa internet. Celah yang merugikan kepentingan publik harus mampu ditutupi oleh regulasi. Di sisi lain regulasi tersebut tidak merugikan perusahaan yang juga menjadi penopang perkembangan ekonomi dan teknologi.

Sementara itu, kehati-hatian individu bisa dibangkitkan melalui literasi media dan edukasi publik. Bahwa di balik kemudahan juga ada resiko yang harus diwaspadai dan dikendalikan.