Petani Modern dan Penggunaan Data

WHAT`S UP
mading
Photo: (c) modernag.com

LAKBAN- Bayangkan sawah dengan padi yang menguning keemasan, ladang jagung yang tumbuh tinggi dan gagah, hamparan tanaman kedelai yang menghijau sedap dipandang mata. Semua itu menggambarkan betapa indahnya panen yang dijanjikan Tuhan bagi para petani yang telah mencurahkan hari-harinya di sawah dan ladang.   

Sepintas, tanaman yang tumbuh subur itu seakan begitu mudahnya. Seperti gambaran lagu Koes Plus “..tanah kita tanah surga…tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman”. Padahal semua yang tampak di luar itu menunjukkan kesuburannya adalah indikator betapa para petani bekerja keras sepanjang musim.

Tanaman pertanian itu pada dasarnya sangat rapuh. Membutuhkan perhatian penuh dari petani. Lusinan keputusan dan langkah harus dibuat untuk menjamin agar tanaman tumbuh dengan baik. Akarnya terjaga, airnya cukup tapi juga tidak terlalu banyak, batangnya sehat, dan  panennya berhasil baik.   

Sepanjang musim, tanaman yang tumbuh harus dijaga agar terhindar dari serangga, hama, dan penyakit. Petani bertanggungjawab penuh menjaga tanaman mereka dari banyak unsur. Semua itu membutuhkan waktu, perhatian, dan sumber daya yang cukup memadai.

Setiap tahun ada 40% tanaman pertanian dari seluruh dunia yang musnah atau gagal panen karena hama, serangga perusak, dan penyakit. Tanpa upaya perlindungan tanaman, kerugiannya bisa berlipat ganda.

Para petani modern sepenuhnya menyadari bahwa sejak benih disemai, mereka harus memberi perhatian penuh pada tanaman mereka. Mereka menggunakan solusi gabungan atau solusi terpadu yang dirangkum dalam frasa “crop protection toolbox”. Kalau diterjemahkan bebas menjadi Kotak peralatan perlindungan tanaman.

Pada umumnya petani melindungi tanamannya dengan menggunakan pestisida. Ada berbagai macam jenis pestisida. Dari yang alami hingga berbasis bahan kimia. Petani organik biasanya akan menghindari sedapat mungkin penggunaan bahan kimia dan memanfaatkan segala yang alami.

Pestisida sendiri bukan barang baru. Menurut  catatan sejarah, sejak zaman Sumeria pada 4500 tahun pestisida telah digunakan. Tentu saja caranya terus berkembang. Efek sampingnya memang semakin dirasakan baik bagi konsumen maupun lingkungan hidup.

Bak menghadapi buah simalakama, petani sulit untuk menghindarkan diri dari penggunaan pestisida. Namun di sisi lain konsumen pun menuntut makanan yang berasal dari tanaman pangan yang sehat. Di sinilah pertanian modern yang berbasis data atau data-driven mengambil peran. Petani dapat mengambil langkah yang pas dalam pemeliharaan dan perlindungan tanamannya.

DI sisi lain, konsumen juga bisa melacak dari mana dan dengan dengan cara apa sumber pangannya berasal.